Showing posts with label parenting. Show all posts
Showing posts with label parenting. Show all posts

January 18, 2022

Catatan Singkat, Video Abah Ihsan : Tahap Agar Anak Konsisten Pada Kebaikan

 Assalamualaikum

hari ini charge ilmu orangtua lagi, tujuannya ya biar selalu waras setiap harinya. Seperti biasa, lagi suka banget nonton channel youtube Abah Ihsan. Sebenarnya selain liat channelnya, saya dan suami juga termasuk salah satu alumnus mom and dad PSPA yang katanya alumnus, tapi kok ya ilmu parenting ga lulus lulus, hehe. Ya karena perjalanan menjadi orang tua tidak akan pernah berhenti.

Yang berkenan baca blogspost ini Alhamdulillah, tapi yang lebih tertarik nonton videonya, bisa langsung meluncur ke link ini ya

September 18, 2017

Komunikasi Efektif pada Anak



Assalamualaikum 

Pernah ga ketemu situasi seperti ini?
Ada seorang ibu, yang membawa 5 kue dan akan dibagikan di rumah, ada untuk suami, dan 3 anaknya (salah satu anaknya berumur 5 tahun). Nah si anak umur 5 tahun ini tiba tiba memakan begitu saja 3 kue, si ibu emosi dan berkata “Sudah!!! Ambil saja semuanya, habiskan saja sana!!”. Reaksi si anak? Bengong, bingung, tidak tahu harus bagaimana, dia pahamnya disana ada kue, dia makan sesuai porsinya, dan sekarang dia kekenyangan, mau menolak tapi liat wajah ibunya kok ngeri. Akhirnya si anak menangis, atau mungkin takut, atau mungkin juga jadi ikutan marah karena ga mau makan kue. 

Itu salah satu contoh situasi yang dijelaskan oleh ibu Indria Laksmi Gamayanti, saat saya menghadiri seminar Komunikasi Efektif pada Anak di Omah Perden. Situasi tersebut terjadi karena si anak yang berumur 5 tahun, sebenarnya masih memiliki pemikiran yang operasional konkrit. Bahwa, dia taunya ada kue dan dia lapar, seharusnya si ibu tidak langsung emosi, tetapi memberikan pengertian dan selanjutnya ada konsekuensi (karena si anak sudah 5 tahun), bahwa besok kalau ibu beli kue lagi, kamu tidak boleh makan dulu, karena hari ini sebagian kue milik yang lain sudah kamu makan. Bicara tenang tapi tegas, sampaikan ke anak, jangan keburu emosi.  

September 20, 2016

7 Tips Agar Anak dan Ayah Makin Lengket



Sejak awal menikah, saya dan suami sudah LDR alias Long Distance Relationship, entah sejak kapan konsep itu berjalan seperti ini. Saat kami berdua (tepatnya sejak suami melamar saya) menikah, kami seakan tidak membahas perbedaan lokasi tempat tinggal kami, saya di Jogja dan suami dii dii dii dimana mana :D. Seperti sudah sepakat satu sama lain, kami (saya mencoba) nyaman nyaman saja dengan situasi ini, yang penting suami telepon setiap hari, pulang setidaknya 2 kali sebulan, dan sebagainya sebagainya (syaratnya banyak banget, wkwkw). Di awal perpisahan pertama kami sebagai pasangan yang menikah, malah suami saya yang terbawa suasana, dia memeluk saya lamaaa sambil terisak dan mengucapkan nasehat nasehatnya. Saya? Senyum senyum sajaaa…tapi rupanya seiring waktu berjalan, yang paling sering menangis ya saya, si wanita yang (sok) kuat ini rupanya cengeng berat, hihi. 

Kekhawatiran saya saat kami berbeda tempat tinggal mulai muncul saat kehamilan anak pertama. Saat itu saya membaca peran penting seorang ayah di rumah, hingga saya dengar tentang anak beberapa teman (dan temannya teman) yang tidak mau dekat dengan ayahnya (karena posisi ayah di luar kota, dan pulang beberapa minggu atau bulan sekali). Bahkan si anak ini sudah bisa dikatakan tidak kecil lagi, tapi sudah besar kisaran SD. Alhasil sejak dalam kandungan hingga lahir ke dunia, Akta sudah saya bilangi kalau ayah kerja di luar kota. Alhamdulillahnya sejak bayi, Akta sudah dekat dengan ayahnya. Saat ayahnya pulang, ada saja tingkah laku mereka, mulai Akta tidur di pangkuan ayahnya, Akta didongengin si Ayah sampai (ayahnya) tertidur, mandi berdua, jalan jalan berdua, dan hingga sekarang mereka bisa bekerja sama “ngerjain” saya. 

September 17, 2016

Mengenal Montessori Lebih Dekat



Awal bulan Agustus, di salah satu grup whatsapp, ada penawaran seminar aka sharing tentang Montessori, dan yang berbagi ilmu tidak lain tidak bukan mba Vidya yang heits di instagram (soalnya saya tahunya dari Ig, Ig beliau @vidyadparamita) dan salah satu pengelola dari Harmony Montessori School Jakarta. Saya bersemangat, langsung daftar dan bayar uang pendaftaran, meskipun belum tau bisa datang atau tidak, hehe. Soalnya Kani juga baru lahir, dan saya ga kebayang bawa 2 anak ke acara sharing (belum mampu handle sendiri). Alhamdulillahnya, ketakutan saya tentang tidak bisa hadir tidak terbukti, hihi. Beberapa malam sebelumnya, saya sudah cerita ke Akta, kalau saya mau seminar, seminar itu belajar, dan bunda hanya bawa dek Kani. Awalnya dia menolak tidak mau ditinggal, mungkin karena selama hampir 4 tahun, Akta selalu saya ajak ke setiap acara yang saya ikuti. Dan ini adalah kali pertamanya Akta saya tinggal di rumah, hehe, semangat kakak !!!


Langsung aja sharing tentang materi mba Vidya yah. Kesan pertama ketemu langsung sama mba Vidya, orangnya ramah sekali ^^ Alhamdulillah yaaa ada pendidik yang ramah seperti ini :) sebelum acara sharing dimulai, beliau berkeliling ruangan untuk kenalan satu satu dengan para peserta, termasuk dengan saya, basa basi sih tapi hangat dan menyenangkan. Materi mba Vidya ga sepenuhnya saya catat, karena tangan kiri saya menggendong Kani, dan tangan kanan untuk menulis, kalo tangan kiri pegel aka capek, jadi gendong Kani nya ganti pake tangan kanan, dan kadang saya harus berdiri menjauh dari meja karena Kani minta diayun dan ganti pempers ^^. Rempong yaang menyenangkan

September 3, 2016

Sibling Rivalvy antara Nomor Satu dan Nomor Dua



Welcome to klan #emakberanakdua !!!

Alhamdulillah sejak 14 Agustus 2016 kemarin, saya resmi jadi ibu dua anak, yang artinya sudah ada 2 anak malaikat yang jadi tanggungjawab saya. Rasanya? Luar biasa lega, capek, dan menyenangkan. Lega karena anak kedua lahir dengan selamat dan sehat (insya allah), capek karena malam pertama kami lalui dengan oek oek (haha) yang membuat saya, suami, dan kakak Akta tidak tidur semalaman, hehe, dan menyenangkan karena ada boneka bayi lagii di rumah :D.

Ada boneka bayi lagi di rumah berarti juga harus pasang aksi jitu untuk tetap memperhatikan boneka bayi pertama (yang udah jadi kakak). Kenapa? Karena setelah sekian lama dia jadi pusat perhatian, dan sekarang harus berbagi dengan si adik. Mungkin untuk kakak adik yang selisihnya kurang lebih 5-6 tahun sudah mengerti arti berbagi. Tapi untuk rentang selisih umur 3-4 tahun masih belum terlalu paham arti berbagi, maunya ditemenin main, makan, dsb.

Selama proses kehamilan, tidak jarang banyak yang bilang, eh nanti cemburu lo si kakak, atau ati ati besok kalo cemburu mukul. Ada juga beberapa orang yang bercerita tentang tingkah anaknya saat si adik lahir, ada yang cemburu padahal selama kehamilan si kakak paling semangat melihat hasil USG adik, atau ada juga yang cemburu selama proses kehamilan terjadi. Kalau sudah begitu saya saring bagian positifnya, dibuang yang bagian negatifnya, wkwkwk. 

gambar diambil dari SINI